Kebenaran
itu pasti ada
Sekitar
rumahku kembali ramai,banyak polisi yang memeriksa dan menanyai para warga
sekitar. Sudah beberapa bulan terakhir ini daerah rumahku sering terjadi
pencurian,kali ini pak Anto kehilangan sepeda
motornya.
“Duh makin mengkhawatirkan
saja yah lingkungan sini!” ucap bu Ani tetangga sebelah rumahku, “iya niihh
jeengg… aku jadi ngga bisa tidur loh semalam karena takut." sambung bu
ijah. Para ibu-ibu pun mulai menggossip
dan saling menebak-nebak siapa pelaku pencurian berantai beberapa bulan ini.
“Aku
sih yakin banget deh kalau pencurinya itu si pak Somad,itu loh suaminya bu
maryam. Setiap dia yang dapet shift jaga malam pasti lingkungan kita kemalingan”
ucap bu ijah menggebu-gebu. Bu ijah memang salah satu ibu rumah tangga yang
selalu up to date dengan gossip terbaru di lingkungan kami dan
menurutku dia salah satu orang yang menyebalkan karena suka berbicara seenak jidatnya saja tanpa tahu kebenaran
berita yang dia sampaikan. “Iya saya juga pikir begitu! Soalnya nih yah jeenngg… kemarin itu saya ngeliat mereka
didatengin sama debcollector. Kabarnya
sih mereka punya hutang sampe 50 juta loh!!! Pasti pak Somad kepepet tuh sama utangnya.” Timpal bu Tati,pasangan gossip bu Ijah. Mereka berdua memang Ratu
gossip di lingungan kami,dan yaaahh…
semua orang langsung mencurigai pak Somad. Aku kasihan sama pak Somad,beliau
adalah hansip di lingkungan kami. Gaji beliau memang pas-pasan,tapi aku yakin
beliau dan istrinya adalah orang yang baik dan jujur.
***
“Bu
kayaknya daerah rumah kita memang sedang rawan maling yah” ucapku kepada ibu. “
Dina kamu tugasnya hanya belajar bukan ngurusin maling” jawab ibu. “tapi aku
dengar…”,”Hmmm! Pasti kamu dengerin gossip ibu-ibu lagi yah? Jangan pernah kamu
ikut-ikutan ibu-ibu yang suka ngomongin orang itu,ngga ada gunanya nak bersuudzon kepada orang lain,lebih baik
kita berhusnudzan,lagipula
membicarakan seorang muslim adalah perilaku tercela Dina,kamu paham?” tutur
ibuku. “Iya bu,Dina paham. Maafkan Dina bu” jawabku sambil tertunduk lesu.
***
Di
dalam kamar aku tak henti-hentinya memikirkan hal tadi pagi,bagaimana mungkin
pak Somad orang yang begitu jujur bisa di curigai oleh para warga. Intan anak
pak Somad satu kelas denganku,dia membantu ibunya berjualan nasi uduk bungkusan
di kelasku. Dia selalu jujur dalam memberikan kembalian teman-teman
kelasku,apalagi dia sering sekali menggratiskan gorengan bila ada yang membeli
2 bungkus. Anaknya saja jujur dan
baik,masa orang tuanya ngga? Pribadi seorang anak kan tercermin dari rumahnya. Aku
yakin kebenaran itu ada, begitu pikirku.
***
Pagi
ini daerah rumahku kembali ramai,ternyata pencuri itu sudah tertangkap dan yang
melawan pencuri itu sendiri adalah pak Somad. Pak somad melawan pencuri itu
sendiri hingga ia terluka parah,ia dibacok oleh kawanan pencuri itu. Namun pak
Somad sempat berteriak hingga para warga pun dating membantu. Selama ini pak
Somad memang sengaja melonggarkan penjagaan agar dapat menjebak si pencuri,dan
pak Somad pun berhasil menjebak si pencuri itu walaupun harus mendapatkan
perawatan karena lukanya itu.
Sekarang pak
Somad bersih dari semua tuduhan. Bu Ijah dan bu Tati meminta maaf atas omongan
mereka yang seenaknya. Akhirnya daerah rumahku kembali tenang,tidak ada lagi
pencuri dan keramaian warga setiap pagi. Sudah kuduga kebenaran itu pasti ada,tinggal
kita sabar atau tidaknya disaat ujian itu datang.