Sabtu, 19 Oktober 2013

Tugas 2 softskiil cerpen bahasa Indonesia


 Kebenaran itu pasti ada

            Sekitar rumahku kembali ramai,banyak polisi yang memeriksa dan menanyai para warga sekitar. Sudah beberapa bulan terakhir ini daerah rumahku sering terjadi pencurian,kali ini pak Anto kehilangan sepeda  motornya.

“Duh makin mengkhawatirkan saja yah lingkungan sini!” ucap bu Ani tetangga sebelah rumahku, “iya niihh jeengg… aku jadi ngga bisa tidur loh semalam karena takut." sambung bu ijah. Para ibu-ibu pun mulai menggossip dan saling menebak-nebak siapa pelaku pencurian berantai beberapa bulan ini.

            “Aku sih yakin banget deh kalau pencurinya itu si pak Somad,itu loh suaminya bu maryam. Setiap dia yang dapet shift jaga malam pasti lingkungan kita kemalingan” ucap bu ijah menggebu-gebu. Bu ijah memang salah satu ibu rumah tangga yang selalu up to date dengan gossip terbaru di lingkungan kami dan menurutku dia salah satu orang yang menyebalkan karena suka berbicara seenak jidatnya saja tanpa tahu kebenaran berita yang dia sampaikan. “Iya saya juga pikir begitu! Soalnya nih yah jeenngg… kemarin itu saya ngeliat mereka didatengin sama debcollector. Kabarnya sih mereka punya hutang sampe 50 juta loh!!! Pasti pak Somad kepepet  tuh sama utangnya.” Timpal bu Tati,pasangan gossip bu Ijah. Mereka berdua memang Ratu gossip  di lingungan kami,dan yaaahh… semua orang langsung mencurigai pak Somad. Aku kasihan sama pak Somad,beliau adalah hansip di lingkungan kami. Gaji beliau memang pas-pasan,tapi aku yakin beliau dan istrinya adalah orang yang baik dan jujur.
***
            “Bu kayaknya daerah rumah kita memang sedang rawan maling yah” ucapku kepada ibu. “ Dina kamu tugasnya hanya belajar bukan ngurusin maling” jawab ibu. “tapi aku dengar…”,”Hmmm! Pasti kamu dengerin gossip ibu-ibu lagi yah? Jangan pernah kamu ikut-ikutan ibu-ibu yang suka ngomongin orang itu,ngga ada gunanya nak bersuudzon kepada orang lain,lebih baik kita berhusnudzan,lagipula membicarakan seorang muslim adalah perilaku tercela Dina,kamu paham?” tutur ibuku. “Iya bu,Dina paham. Maafkan Dina bu” jawabku sambil tertunduk lesu.
***
            Di dalam kamar aku tak henti-hentinya memikirkan hal tadi pagi,bagaimana mungkin pak Somad orang yang begitu jujur bisa di curigai oleh para warga. Intan anak pak Somad satu kelas denganku,dia membantu ibunya berjualan nasi uduk bungkusan di kelasku. Dia selalu jujur dalam memberikan kembalian teman-teman kelasku,apalagi dia sering sekali menggratiskan gorengan bila ada yang membeli 2 bungkus. Anaknya saja jujur dan baik,masa orang tuanya ngga? Pribadi seorang anak kan tercermin dari rumahnya. Aku yakin kebenaran itu ada, begitu pikirku.
***

            Pagi ini daerah rumahku kembali ramai,ternyata pencuri itu sudah tertangkap dan yang melawan pencuri itu sendiri adalah pak Somad. Pak somad melawan pencuri itu sendiri hingga ia terluka parah,ia dibacok oleh kawanan pencuri itu. Namun pak Somad sempat berteriak hingga para warga pun dating membantu. Selama ini pak Somad memang sengaja melonggarkan penjagaan agar dapat menjebak si pencuri,dan pak Somad pun berhasil menjebak si pencuri itu walaupun harus mendapatkan perawatan karena lukanya itu.
           
Sekarang pak Somad bersih dari semua tuduhan. Bu Ijah dan bu Tati meminta maaf atas omongan mereka yang seenaknya. Akhirnya daerah rumahku kembali tenang,tidak ada lagi pencuri dan keramaian warga setiap pagi. Sudah kuduga kebenaran itu pasti ada,tinggal kita sabar atau tidaknya disaat ujian itu datang.